Showing posts with label sejarah. Show all posts
Politik, sejarah, Tokoh
Usman dan Harun, dua nama yang akhir-akhir ini memicu ketegangan Indonesia dan Singapura sebab Usman dan Harun dijadikan nama kapal perang terbaru TNI yang dibeli dari Inggris. Namun siapa mereka sampai-sampai Singapura mengeluarkan larangan KRI Usman Harun beroperasi atau melintasi wilayah mereka, dan menjadi pemicu ketegangan antar dua negara?
Warga Indonesia memang banyak tak mengenal dua nama ini, termasuk saya. Oleh karenanya saya mencari tahu siapa mereka hingga mampu memunculkan sebuah ketegangan diantara kedua negara.
Usman bin Haji Muhammad Ali dan Harun/Thahir bin Said adalah dua nama Pahlawan Nasional Indonesia, berdasarkan SK Presiden RI Nomor 050/TK/Tahun 1968, tanggal 17 Oktober 1968 Oleh Presiden Soeharto. Usman dan Harun divonis mati oleh Pemerintah Singapura dan Meninggal dalam eksekusi hukuman gantung pada Kamis tanggal 17 Oktober 1968, tepatnya pukul 06.00 pagi, di dalam penjara Changi, Singapura.
Apa pasal kedua Pahlawan Indonesia ini sampai divonis mati oleh Pengadilan Singapura? Keduanya divonis terkait ketegangan hubungan politik-militer antara Indonesia dan Malaysia yang dikenal Konfrotasi Indonesia-Malaysia antara 1963-1965 dan saat itu, Singapura masih bagian dari wilayah Federasi Malaysia. Keduanya dan juga bersama Gani bin Arup pada Tanggal 10 Maret 1965 berhasil meledakkan bangunan Mc'Donald House yang terletak di pusat kota Singapura setelah mendapatkan tugas khusus dari Komando Operasi Tertinggi (KOTI) untuk memasuki Singapura sebagai bagian dari perkuatan militer Indonesia untuk membantu para sukarelawan Indonesia di wilayah musuh Pada Maret 1965. Dengan menggunakan perahu karet, ketiganya berangkat tanggal 8 Maret 1965 dengan membawa 12,5 kilogram bahan peledak.
Ketegangan Singapura-Indonesia gara-gara KRI Usman Harun karena Pemerintah Singapura menganggap sebagai teroris dan perusak/pengacau kedua orang yang dianggap oleh Republik Indonesia ini sebagai Pahlawan Nasional.
Hubungan Politik di antara dua negara selalu berdinamika, terkadang dua buah negara yang berjauhan bisa bersahabat begitu akrabnya oleh berbagai alasan, namun tak jarang pula dua negara bertetangga bersitegang oleh karena berbagai sebab, entah itu karena sengketa masalah tapal batas, maupun hal lainnya seperti halnya kejadian ini. Semoga ada jalan tengah sehingga ketegangan antar dua negara ini tidak berlarut-larut. (NA)
Sumber :
- http://maindakon.blogspot.com/2014/02/mengenal-usman-harun-pahlawan-nasional.html
![]() |
| Usman dan Harun, Pemicu Ketegangan Indonesia-Singapura |
Ketegangan Singapura-Indonesia gara-gara KRI Usman Harun karena Pemerintah Singapura menganggap sebagai teroris dan perusak/pengacau kedua orang yang dianggap oleh Republik Indonesia ini sebagai Pahlawan Nasional.
Hubungan Politik di antara dua negara selalu berdinamika, terkadang dua buah negara yang berjauhan bisa bersahabat begitu akrabnya oleh berbagai alasan, namun tak jarang pula dua negara bertetangga bersitegang oleh karena berbagai sebab, entah itu karena sengketa masalah tapal batas, maupun hal lainnya seperti halnya kejadian ini. Semoga ada jalan tengah sehingga ketegangan antar dua negara ini tidak berlarut-larut. (NA)
Sumber :
- http://maindakon.blogspot.com/2014/02/mengenal-usman-harun-pahlawan-nasional.html
Sumber Gambar :
Kalbar, Kalimantan, Kota Pontianak, sejarah
Tulisan ini saya terbitkan di Kompasiana, dan dapat anda simak dan baca disini : Tragedi Mandor dan Kalimantan Barat Tidak Ada Pahlawan Nasional
| Gusti Jafar, Raja Kerajaan Tayan Salah Satu Korban Keganasan Jepang |
celoteh, Kata-kata, sejarah
Seperti yang kita ketahui selama ini Ir. Soekarno atau Bung Karno dan Drs. Moehammad Hatta atau Bung Hatta yang sering disebut Dwi Tunggal hanya mendapat gelar Pahlawan Proklamator atas jasa mereka sebagai pembaca teks Proklamasi di Jakarta pada Tanggal 17 Agustus 1945. Sebagai seorang yang ikut berjuang dalam masa pergerakan nasional dalam upaya kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan keduanya belum mendapat gelar Pahlawan dari Pemerintah Negara Republik Indonesia sejak jaman pemerintahan presiden Soeharto hingga hari ini, tanggal 7 November 2012 barulah mantan Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia ini mendapat gelar pahlawan nasional oleh Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah upacara pemberian gelar pahlawan nasional yang diselenggarakan di Istana Merdeka. Padahal keduanya juga dikenal sebagai tokoh yang juga sangat aktif dalam mewujudkan Negara Republik ini.
Mengapa gelar pahlawan Nasional kepada keduanya baru diberikan hari ini ? Seperti yang saya kutip dari portal berita DetikNews, Anggota Dewan Gelar Jimly Asshiddiqqie memberi penjelasan bahwa terjadi perdebatan soal gelar pahlawan nasional bagi Bung Karno dan Bung Hatta, karena ada yang berpandangan keduanya tak perlu lagi diberi gelar pahlawan nasional karena sudah menjadi pahlawan proklamator.
Selain disebabkan karena hal tersebut diatas mungkin karena adanya kepentingan-kepentingan pada masa Orde Baru yang menyebabkan baru sekarang keduanya mendapat gelar tertinggi bagi Pahlawan di negara ini.
Apakah pemberian gelar bagi Dwi Tunggal tersebut dapat dikatakan terlambat? Ya sangat terlambat jika kita mengenang jasa-jasa keduanya dalam mewujudkan dan memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa ini, terlepas dari telah diberikannya gelar Pahlawan Proklamator oleh Presiden Soeharto. Namun tidak juga terlambat jika kita menilai ini adalah suatu langkah yang baik untuk menghargai dan memberikan balasan atas jasa-jasa keduanya, Tidak ada kata terlambat bila membuat suatu yang baik.
Gelar Pahlawan Nasional sangat pantas disandang oleh keduanya sebab Bung Karno dan Bung Hatta adalah pahlawan bangsa yang telah menyumbangkan tenaga, waktu serta pikirannya untuk kemerdekaan, dan kemajuan negara ini. Bung Karno dan Bung Hatta adalah tetap sebagai sang Proklamator, karena sejarah telah mencatatnya dan takkan bisa diubah lagi, sekalipun keduanya telah dianugeri gelar Pahlawan Nasional. Salam (NA)
Buku, Kalbar, sejarah
| Sultan Syarif Abduracchman ( SUMBER GAMBAR ) |
Syarif Abdurrachman bertolak dari Mempawah dan mendarat di sebuah pulau di pertemuan Sungai Landak dan Sungai Kapuas pada tanggal 23 November 1771 dengan 16 kapal lengkap dengan awak kapal dan rakyat negeri Mempawah yang menjadi pengikutnya. Dan tercatatlah berdiri sebuah kesultanan terakhir di tanah Kalimantan, Kesultanan Pontianak.
23 November 1771 adalah tanggal dimana sekarang diperingati sebagai hari jadi kota Pontianak, Padahal menurut Jacob Ozinga yang menafsirkan pendapat sejarawan Schrieke, 1 Ramadhan 1185 atau 7 Januari 1772 lah yang menjadi hari jadi Kota Pontianak, pendapat ini kemudian diperkuat oleh PJ Peth seorang editor dari The Guide dan editor "Journal of Hindia Belanda."
Pontianak berjaya karena Belanda ? Mengapa demikian?
Pontianak pada awalnya adalah sebuah kesultanan kecil yang didirikan oleh Syarif Abdurrachman yang merupakan putra dari Syarif Hussein Bin Ahmed Alkadrie seorang ulama Islam dari Kerajaan Matan, dan juga penasehat raja Matan. Oleh karena perselisihan dengan raja Matan ia akhirnya berlayar ke Kerajaan Mempawah dan akhirnya menikah dengan salah seorang putri Raja Mempawah saat itu Opu Daeng Manambon yakni Nyai Tua dan menghasilkan keturunan lima orang anak, satu diantaranya adalah Syarif Abdurrahman Alkadrie.
Pontianak setelah didirikan mengalami hambatan di dalam bidang perdagangan, yakni kalah bersaing dengan Sukadana yang merupakan bandar perdagangan yang sangat besar kala itu sehingga dapat disejajarkan dengan bandar Banjarmasin. Inilah permulaan Kesultanan Pontianak menghamba kepada Belanda, Syarif Abdurrachman menerima bantuan Belanda dalam serangan terhadap Sukadana di tahun 1789, Sukadana berhasil dilumpuhkan dan Pontianak berhasil merebut fungsi Sukadana sebagai bandar Perdagangan, Pontianak mulai bertumbuh pesat.
![]() |
| Keraton Kesultanan Pontianak ( SUMBER GAMBAR ) |
Belanda lagi-lagi membantu Pontianak pada penyerangan terhadap Mempawah yang merupakan asal muasal rakyat Pontianak, perang saudara ini didalangi belanda. Gusti Djamiril Panembahan Kusuma Jaya yang merupakan Raja Mempawah saat itu tak sudi bila Belanda membantu Pontianak menyerang negerinya ia akhirnya menyingkir ke Karangan. Pontianak kian berjaya setelah berhasil melumpuhkan Sukadana dan Mempawah.
Dua penguasaan kerajaan lain di bumi Kalimantan oleh Kesultanan Pontianak adalah didalangi oleh Belanda, dan Pontianak berhasil menjadi sebuah kesultanan yang berjaya dimasanya. Hingga akhirnya Sultan Syarif Abdurracman Alkadrie mangkat dan digantikan oleh Pangeran Ratu Syarif Osman Alkadrie yang sebenarnya belum dewasa saat Sultan Syarif Abdurrachman meninggal.
Pada pemerintahannya Syarif Kasim, Pontianak mengalami masa sulit, yakni mendapat masalah bajak laut, pemberontakan Sambas dan Cina. Sehingga lagi-lagi Kesultanan Pontianak meminta bala bantuan penjajah, yakni Inggris pada tahun 1814. Pemerintahan diambil alih oleh Inggris berdasarkan Traktat London. Kemudian utusan Belanda datang dan memaksa sultan Pontianak menandatangani perjanjian dan mengakibatkan dua daerah taklukannya yakni Tayan dan Matan jatuh ke tangan Belanda.
Pontianak akhirnya dikuasai Belanda dan raja akhirnya digaji oleh Belanda dan menjadi pegawai administrasi pemerintahan Belanda.
Kesultanan Pontianak dalam perjalanan berikutnya terus-terusan berada dibawah kendali Belanda yang pada awalnya membantu Pontianak menguasai daerah-daerah lain di sekitarnya. Pontianak Berjaya dan Jatuh selalu selalu karena Belanda.
Disari dari Buku Sejarah Pemerintahan Kesultanan Dan Kota Pontianak, Syafaruddin Usman, MHD, S.Pd. Terbitan Romeo Grafika Pontianak, 2000.



