, ,

    Tugu CIDAYU, Nanga Taman Kab. Sekadau
    Kalimantan Barat, suatu Provinsi dengan berjuta pesona. Kalimantan Barat dengan keadaan alam tropisnya yang merupakan habitat dari beberapa spesies hewan dan tumbuhan endemik seperti burung Enggang (Rhinoplax vigil) serta Anggrek hitam (Coelogyne pandurata) begitu memikat, belum lagi berbagai tempat wisata dan keunikan kebudayaan yang ada.

    Salah satu keeunikan budaya Provinsi yang dilintasi sungai terpanjang di Indonesia (Sungai Kapuas, 1143 Km) ini adalah adanya keberagaman budaya itu sendiri, dimana provinsi ini didiami oleh tiga suku besar yakni Etnis Cina, Suku Dayak dan Suku Melayu atau yang biasa disingkat CIDAYU, yang hidup saling berdampingan dan harmonis.

    Etnis Cina di Kalimantan Barat dapat pula disebut suku asli di provinsi ini, sebab etnis ini sudah lama datang dan berbaur dengan penduduk lokal yang ada, bahkan menghasilkan persilangan kebudayaan dengan suku yang ada di Kalbar, baik itu percampuran budaya dengan Suku Dayak maupun Melayu. Etnis Cina di Kalimantan Barat disebut-sebut sudah ada di Kalimantan Barat sejak abad ke tujuh belas Masehi, Atau sebelum Kota Pontianak berdiri. Imigran dari Cina kemudian masuk ke Kerajaan Sambas dan Mempawah dan terorganisir dalam kongsi sosial politik yang berpusat di Monterado dan Bodok, kerajaan Sambas dan Mandor dalam Kerajaan Mempawah. Pasukan Khubilai Khan di bawah pimpinan Ike Meso, Shih Pi dan Khau Sing dalam perjalanannya untuk menghukum Kertanegara, singgah di kepulauan Karimata yang terletak berhadapan dengan Kerajaan Tanjungpura. Karena kekalahan pasukan ini dari angkatan perang Jawa dan takut mendapat hukuman dari Khubilai Khan, kemungkinan besar beberapa dari mereka melarikan diri dan menetap di Kalimantan Barat. Tahun 1745, orang Cina didatangkan besar-besaran untuk kepentingan perkongsian, karena Sultan Sambas dan Panembahan Mempawah menggunakan tenaga-tenaga orang Cina sebagai wajib rodi dipekerjakan di tambang-tambang emas. Kedatangan mereka di Monterado membentuk kongsi Taikong (Parit Besar) dan SamtoKiaw (Tiga Jembatan). Orang-orang Cina di kalimantan Barat berasal dari tenggara Tiongkok, mereka termasuk suku-suku Hakka, Hainan, Hokkien, Kantonis, Hokcia, dan Tiochiu.

    Istilah "Dayak" paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau (Wikipedia). 
    Suku Dayak diperkirakan berasal dari dataran Cina dimana Antara 60.000 dan 70.000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini "Sunda"), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia. Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. (Wikipedia).

    Ada keunikan dalam istilah penyebutan Dayak di Kalimantan secara umumnya, orang suku Dayak biasanya beragama Katolik, Kristen ataupun penganut kepercayaan lainnya, orang Dayak yang kemudian memeluk agama Islam biasanya tidak lagi disebut sebagai orang Dayak, tapi disebut sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai ( di Kaltim dan Kalsel ) atau menyebut dirinya Melayu (di Kalbar). 

    Dikarenakan arus migrasi yang kuat dari para pendatang, Suku Dayak yang masih mempertahankan adat budayanya akhirnya memilih masuk ke pedalaman. Akibatnya, Suku Dayak menjadi terpencar-pencar dan menjadi sub-sub etnis tersendiri. Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975). Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di tiap-tiap pemukiman mereka. Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang menyebar di seluruh Kalimantan (Wikipedia)

    Suku Melayu di Kalimantan Barat tersebar luas hampir di semua kabupaten dan kota. Suku Melayu di Kalimantan Barat memiliki baragam dialek antara lain Melayu Pontianak, Melayu Singkawang, Melayu Mempawah, Melayu Sambas, Melayu Bengkayang, Melayu Sanggau, Melayu Sekadau, Melayu Sintang, Melayu Kapuas Hulu, Melayu Kubu, Melayu Sukadana dan Melayu Ketapang. Secara umum, Suku Melayu mendiami beberapa propinsi di Sumatera dan Kalimantan Barat. Suku Melayu juga terdapat di Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand dan Afrika Selatan. Melayu Cape Town di Afrika Selatan merupakan keturunan suku Melayu dan sejumlah suku lainnya yang berasal dari Nusantara seperti Makassar, Banten dan Ternate.
    Suku Melayu sebenarnya berbagai macam, penyebutan istilah Melayu ini ditujukan kepada beberapa rumpun Suku yang memeluk agama Islam. Keunikan budaya melayu masih kental terlihat di Kalimantan Barat berupa tari-tariannya, rumah-rumah adat dan Istana bekas kerajaan Melayu, seperti Istana Kadariyah Pontianak, Istana Sambas, dan lainnya, begitu juga dengan kebudayaan Dayk dan Etnis Cina, kebudayaan Dayak dapat dijumpai tersebar di seluruh Kalimantan Barat yang berupa Rumah Betang atau Rumah Panjang, Kebudayaan seni berupa motif dan ukiran, serta tariannya. Begitu juga dengan kebudayaan Etnis Cina yang dapat dijumpai berupa perayaan Tahun Baru Cina (Imlek) dan Cap Go Meh di Kota Singkawang, dan juga klenteng, atau Pe Kong yang hampir tersebar di seluruh Provinsi ini.

    CIDAYU, Cina Dayak Melayu, adalah ketiga rumpun suku yang mendiami Kalimantan Barat, hidup secara harmonis dan saling berdampingan di Kalimantan Barat.

    DAMAI INDONESIA KU !!! (NA)


    http://borneonews-borneoku.blogspot.com/2012/03/suku-melayu-kalimantan-barat-suku.html
    http://ace-informasibudaya.blogspot.com/2010/05/sekilas-kedatangan-orang-tionghoa-di.html
    http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak

    , , ,


    Masa di depan Asrama Pangsuma
    Lagi-lagi sebuah sebuah konflik berbau SARA terjadi di bumi Indonesia, bermula dari sebuah aksi penolakan terhadap Ormas FPI dengan membentangkan spanduk oleh warga Asrama Pangsuma, Jl. KH Wahid Hasyim Pontianak. Karena adanya spanduk inilah yang memancing amarah simpatisan FPI, dan kemudian masuk ke asrama dan menurunkan spanduk. Insiden pelepasan spanduk inilah yang menimbulkan keributan dan nyaris bentrok.

    Insiden tersebut memicu Ribuan orang berkumpul di Rumah Betang, Jl Sutoyo Pontianak pada Kamis pagi 15 Maret 2012. Ribuan orang ini menuntut agar FPI Kalbar dibubarkan. Mereka datang dari daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan Kota Pontianak, antara lain Sei Ambawang dan Mandor.

    Untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang akan terjadi, Satlantas Kota Pontianak sempat menutup Beberapa ruas jalan diantaranya Jembatan Kapuas 1, Jalan Veteran, Jalan Sutoyo, Jalan Gajahmada, dan Jalan Tanjungpura.. Hingga akhirnya tokoh-tokoh dari kedua belah pihak dipertemukan dan berbicara secara damai dan dengan sikap dingin.

    Isu yang timbul terkait SARA di Kalimantan Barat ini muncul pada saat sedang hangat-hangatnya situasi politik menjelang Pilkada di Kalimantan Barat, apakah ini ada kaitannya? atau secara sengaja disebar oleh pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi saja?

    Oleh karena itu seharusnya warga Kalimantan Barat pada khususnya janganlah terpancing isu-isu yang memecah belah persatuan masyarakat Kalimantan Barat.

    Ingat !! Damai Itu Indah.


    Sumber Gambar : http://www.equator-news.com/utama/20120315/spanduk-dipasang-massa-fpi-berang

    , , ,

    Dayak, adalah nama suatu suku atau rumpun suku yang sebagian besar tersebar di pulau Kalimantan, baik itu Kalimantan milik Indonesia maupun Negara bagian Sarawak dan Sabah, Malaysia.

    Stephanus Djuweng, pendiri dan peneliti senior Institut Dayakologi dalam Paper yang dipresentasikan dalam lokakarya United Nation Economic and Social Council (UNESCO) di Jakarta Tahun 1999 yang berjudul PEMBANGUNAN DAN PENINDASAN menyebutkan bahwa "Dayak adalah sebutan kolektif terhadap sekitar 405 kelompok etnolinguistik yang mendiami pulau Borneo. Mereka menamakan/dinamakan Iban, Kayan, Kenyah, Kanayatn, Maanyan, Ngajuk, Uut Danum, Bidayuh, Simpang, Pompakng, dan lain-lain. Menurut para peneliti, penamaan ini berdasarkan kesamaan Hukum Adat, Ritual Kematian dan Bahasa. Sebenyarnya penamaan sub-suku Dayak juga dapat didasarkan pada letak geografis kawasan adat mereka"

    Dayak,  mengapa masih dianggap primitif ? mengapa muncul pertanyaan seperti ini?
    Berdasarkan apa yang saya (penulis) alami sendiri maupun mendengar cerita dari teman-teman yang sering bepergian ke luar Kalimantan, banyak yang bertanya dan masih menganggap bahwa suku Dayak itu masih primitif, kejam, kanibal, primitif, berekor, dan sebagainya. Mengapa masih terekam di ingatan orang-orang luar pulau Kalimantan bahwa suku Dayak masih primitif, kejam, kanibal, primitif, berekor, dan sebagainya ? 

    Untuk menjawab dan mencari tahu mengapa citra suku dayak sebagai suku yang masih primitif begitu melekat di pikiran orang luar pulau kalimantan perlu berbagai penelusuran yang lebih mendalam sehingga diketahui penyebab pastinya.

    Berikut ini hanya pola pikiran saya ketika terdengar lontaran kalimat bahwa "Dayak itu masih Primitif" adalah :
    • Dijaman Modern ini, orang Dayak masih selalu dianggap primitif mungkin disebabkan oleh masih terbelakangnya dan belum diserapnya ilmu pengetahuan oleh masyarakat Dayak yang masih menetap di daerah pedalaman, dan inipun populasinya semakin berkurang, tetapi hal ini bukan menjadi suatu alasan menyebutkan Dayak secara umum, sebab masyarakat Dayak pada umumnya sudah mengenal pendidikan modern.
    • Adanya tradisi purba/kuno"Ngayau" yang merupakan  tradisi Suku Dayak. Pada tradisi Ngayau yang sesungguhnya, Ngayau tidak lepas dari korban kepala manusia dari pihak musuh. Citra yang paling populer tentang Kalimantan selama ini adalah yang berkaitan dengan berburu kepala (Ngayau). Karya Bock, The Head Hunters of Borneo yang diterbitkan di Inggris pada tahun 1881 banyak menyumbang terhadap terciptanya citra Dayak sebagai “orang-orang pemburu kepala”.

    Dua hal pokok tersebut yang menyebabkan pola pikir orang luar Kalimantan masih menganggap suku Dayak khususnya sebagai suatu suku yang masih terbelakang, primitif, dan sebagainya. Padahal jika mereka datang sendiri ke Kalimantan situasi yang berbeda 180ยบ dari pemikiran mereka selama ini akan mereka temui, bagaimana menurut anda?

    Image Source : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak

    , , , ,

    Kalimantan Barat merupakan sebuah Provinsi yang sangat kaya akan Sumber Daya Alam dan merupakan provinsi yang cukup majemuk karena diketahui oleh orang Kalimantan Barat sendiri ada tiga Suku Bangsa besar yang mendiami provinsi ini yakni Melayu, Dayak, dan Etnis Cina. Khusus pada suku dayak, banyak terdapat sub suku dayak di provinsi ini. "Kata Dayak sendiri selain berasal dari bahasa Dayak Kendayan, juga berasal dari bahasa Dayak kenyah dan Dayak lainnya, yakni dari istilah kata ” Daya” yang memiliki dua arti yakni “daerah hulu” dan “kekuatan“. ketika ada orang lain yang menanyai seseorang yang hendak ke daerah hulu dimasa lampau dengan kalimat dalam bahasa Dayak Kendayan seperti ini: Ampus Ka mane kau? maka akan di jawab oleh orang yang di tanyai sebagai berikut: Aku Ampus ka daya…yang artinya ” pergi ke mana kau? aku pergi ke hulu”. Dimasa dahulu dalam naskah-naskah Jawa kuno pulau kalimantan disebut “Nusa Kencana” yang bearti pulau emas, namun oleh orang Jawa kebanyakkan lebih sering disebut “Tanah Sabrang” penghuninya adalah “Orang Sabrang” sebutan orang Dayak oleh orang Jawa di masa lampau". (dikutip keseluruhannya {yang bercetak miring} dari http://suaraborneo.com/?p=1826 ).

    Salah satu sub suku dayak tersebut adalah Sub Suku Dayak Jawant ( Jawa + NT ) adalah nama sub suku Dayak yang sebagian besar mendiami daerah aliran sungai menterap Kecamatan Sekadau Hulu Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat.

    Sebelumnya anda para pembaca jangan mengira saya akan menuliskan tentang suku Jawa yang merupakan salah satu suku terbesar yang ada di Indonesia. Seperti yang saya jelaskan di paragraf pertama bahwa Jawant adalah nama dari sub suku Sayak yang ada di Kabupaten Sekadau.

    Hal yang identik dengan sub suku ini adalah DAS ( Daerah Aliran Sungai ) Menterap yang merupakan anak sungai dari Sungai Sekadau, karena sebagian besar sub suku ini mendiami kampung-kampung di sekitar DAS sungai Menterap seperti Roca, Boti, Sulang Botong, Mondi, Nate Kelampe, Tapang Birah, Gintong, Engkorong, Sungai Gontin, Bongkit dan Sengiang.

    Sungai Menterap (Sumber Gambar : http://jawant.blogspot.com/)
    Salah satu peninggalan Kebudayaan Jawant saat ini adalah Rumah Pasah semacam musium kampung dimana segala macam sisa-sisa barang-barang kuno disimpan. (termasuk sisa jarahan para pemburu barang-barang antik) yang terletak di Kampung/Desa Boti, yang merupakan kampung tertua di antara kampung-kampung Jawant lainnya. Selain itu banyak lagi bentuk kebudayaan asli suku dayak Jawant yang masih terpelihara dengan baik hingga saat ini seperti Upacara "Nyapat Taun" yakni sebuah upacara ucapan syukur atas keberhasilan panen padi yang diselenggarakan di sekitar bulan Mei-Juni setiap tahunnya. Kemudian upacara adat menyambut tamu, saat menyambut tamu kehormatan yang akan datang di kampung orang Dayak Jawant.

    Selain Jawant sebagai nama Sub Suku Dayak, Jawant sendiri adalah nama bahasa yang merupakan salah satu bahasa yang terbesar jumlah penuturnya di Kecamatan Sekadau Hulu, selain bahasa-bahasa dayak lainnya. Bahasa ini memiliki fonologi sendiri, dan mengenai fonologi bahasa Dayak Jawant anda dapat membaca skripsi Mahasiswa FKIP, Universitas Tanjungpura Pontianak, saudara Aan Agustinus, skripsi ini dapat anda lihat di perpustakaan FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.


    Bukan sebuah kebetulan saya adalah putra dari ayah yang bersuku Dayak Jawant dan ibu yang juga bersuku dayak Jawant, percakapan kami sehari-hari dirumah menggunakan/menuturkan bahasa dayak jawant.

    Sumber :

⬆
Top